Selasa, 15 Desember 2009

0

KISAH GAMPONG ALUE NAGA




 BY :
 NURUL MALAHAYATI
ELYSA WULANDARI
VIVI SULVIA 


Tanggal 26 Desember 2004 adalah tanggal yang paling bersejarah bagi warga Kota Banda Aceh, pada jam 7. 58’ 53” WIB hari minggu pagi gempa dengan 8,9 skala richter telah menggoyang kota Banda Aceh dan dengan hitungan menit, gelombang tsunami menghantam Kota Banda Aceh di sepanjang garis pantai dari kecamatan Jaya Baru sampai dengan kecamatan Syiah Kuala.
Selain menghancurkan rumah-rumah penduduk, gelombang tsunami juga menghancurkan sarana dan prasarana kebudayaan dan Lingkungan hidup Kota Banda Aceh yang terdapat di 5 (lima) kecamatan yakni : Kecamatan Meuraxa, Kecamatan Jaya Baru, Kecamatan Kuta Raja, Kecamatan Kuta Alam dan Kecamatan Syiah Kuala.   

Gampong Alue Naga merupakan salah gampong yang terletak di Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh.  Gampong ini merupakan salah satu wilayah yang terparah dalam kejadian bencana alam tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.

 Luas Gampong Alue Naga adalah 329,19 HA yang terdiri dari daratan 80,58 HA, tambak 155,98 HA dan  sungai/saluran 89,63 HA.  Jumlah penduduk di Gampong Alue Naga  adalah 1.023 jiwa dari  30.867 jiwa jumlah penduduk seluruhnya di Kecamatan Syiah Kuala (Banda Aceh Dalam Angka, 2008).   

Gampong ini terdiri dari 4 dusun yaitu dusun Kutaran, Po Diamat, Beunot dan Musafir.  Dusun Kutaran dan Po Diamat terpisah ari dusun Beunot dam Musafir oleh sebuah Kanal Banjir.    Sebelum tsunami ada jembatan yang menghubungkan antara dusun-dusun tersebut.  Letak dusun Beunot agak menjorok ke laut dan banyak ditumbuhi pohon nyiur.  Sedangkan Musafir terletak dibelakang dusun Beunot dan berbatasan dengan Gampong Tibang dan Deah Raya.



1

LEGENDA ASAL ASUL NAMA ALUE NAGA


Menurut keterangan Keucik Gampong Alue Naga yakni Bapak Sayuti AR , nama Alue Naga diambil dari cerita legenda yang berkembang di Gampong tersebut.  Kabupaten Aceh Selatan dan Gampong Alue Naga Di Banda Aceh memiliki kesamaan legenda, begitu juga dengan Kabupaten Nagan Raya.  Legenda tersebut adalah legenda mengenai sesosok Naga yang sangat terkenal dalam sejarah Aceh Selatan.  Naga yang dimaksud berupa ular besar bukan Naga seperti mitos di Negeri Cina.  Tetapi ular ini diumpamakan oleh masyarakat local adalah ular yang sudah tua dan berukuran besar dengan badan yang ditumbuhi dengan bulu-bulu.

Ular tersebut bersarang pada suatu Alue (dalam bahasa Aceh Alue artinya adalah Sungai) yang sangat dalam.  Alue tersebut membentang melalui dusun Beubot dan Musafir.  Di Alue tersebut banyak hidup berbagai ikan besar yang datang dari laut. 

Konon dahulu kala Ular Naga yang bersarang di Alue tersebut pergi ke Kabupaten Aceh selatan melalui Samudera Hindia dengan melewati Kabupaten Nagan Raya.   Setahun sekali Naga pulang ke Alue Naga, penduduk setempat pada masa itu pernah melihat Naga tersebut sedang mengambil ikan diseputaran paraian Alue Naga.  Kemudian Naga tersebut pulang kemballi ke kabupaten Aceh Selatan dan begitu seterusnya berjalanan sang Naga.

Kondisi Alue tersebut pada  masa sekarang sudah tidak ada lagi karena sudah dibangun jalan yang menghubungkan antara dusun Musafir dan Beunot. Alue (sungai) yang menjadi sarang sang Naga pun kini menjadi Kenangan dan diceritakan secara turun temurun oleh masyarakat Gampong Alue Naga.

0

GAMPONG ALUE NAGA MERUPAKAN SALAH SATU PINTU MASUK BELANDA KE ACEH


Alue Naga adalah tempat pertama kalinya belanda memasuki perairan Aceh, tepatnya disuatu pantai yang bernama Kuala Gigieng. Pada waktu itu, terjadi pertempuran yang sangat dasyat. Pertempuran tersebut diikuti oleh pahalawan Aceh yang terkenal yaitu Tgk Chik Di Lamnga, suami Cut Nyak Dien. Sepanjang pantai di Alue Naga ketika itu ada seperti benteng alam yang sangat strategis. Dengan bukit-bukit kecil disepanjang pantai dan pepohonan bamboo yang rimbun membuat daerah tersebut cocok untuk dijadikan benteng. 
 
Ketika itu , daerah Alue Naga dan sekitarnya merupakan suatu kota yang ramai penduduknya. Banyak bangunan dan sarana yang didirikan oleh para penduduk untuk memfasilitasi para pedagang/pelaut yang singgah di tempat itu. Setelah peristiwa peperangan yang berkecamauk pada awal masuknya Belanda, tempat tersebut porak poranda dan penduduk terpencar-pencar mengungsi ke daerah lain. Hingga saat ini, sedikit sekali bekas peninggalan sejarah tersebut yang masih tersisa karena salah satunya adalah karena terkena terjangan gelombang tsunami.
1

KISAH KEBUN CINA DI GAMPONG ALUE NAGA


Setelah Belanda masuk ke Kota banda aceh yang saat itu bernama Kutaraja, kawasan Alue Naga dijadikan oleh seorang toke Cina sebagai perkebunan kelapa.  Oleh penduduk setempat, perkebunan tersebut dikenal dengan nama ‘Kebun Cina’.  Pada saat itu perkebunan tersebut sangat luas dan maju.  Jembatan yang menghubungkan dusun Kutaran dan Dusun Krueng Cut pun dibangun.  Jaringan kereta api juga dibangun ynag digunakan sebagi alat transportasi yang mengangkut komoditas hasil perkebunan dan logistik yang diperlukan diarea perkebunan tersebut.

Awal tahun 80-an oleh pemerintah dibangun proyek kanal Banjir Krueng Aceh.  Akibat pembangunan tersebut Gampong Alue Naga terpisah menjadi dua wilayah.   Wilayah pertama adalah Dusun Musafir dan Dusun Beunot yang masih bersatu dengan Gampong Deah Raya (tempat makan Tgk Syiah Kuala).  Wilayah kedua adalah Dusun Kutaran dan Po Diamat yang bertetangga dengan Gampong Krueng Cut.  Untuk menghubungkan kedua wilayah tersebut dibangun jembatan yang berukuran sekitar 5 meter.  Tapi kini jembatan tersebut tela hancur karena dihantam gelambang tsunami.

0

KISAH BENTENG KUTA RUNTOH


Pada masa kerajaan Aceh, warga asing masuk ke Aceh melewati kuala (dalam bahasa Aceh Kuala artinya Dermaga). Mereka datang ke Aceh untuk membeli rempah-rempah untuk dijual ke negaranya. Tak heran jika pada wktu itu daerah pesisir lebih maju dan modern dalam bidang perdagangan dan pemerintahan. Salah satu daerah yang sangat maju adalah Kuala Gigieng, Alue Naga. Begitu juga dengan pelabuhan Ulee Lheu yang disinggahi ribuan kapal asing.

Didaerah Kuala Gigieng dan sekitarnya (sekarang daerh Alue Naga dan Deah Raya) berstatus kota dan banyak bangunan didalamnya. Salah satu bangunan yang terkenal adalah Benteng Kuta runtoh (dalam bahasa Aceh Benteng kuta runtoh artinya adalah Benteng Kota Runtuh). Saat ini benteng tersebut hanya tinggal dua bangunan saja diantara dua anak sungai, yang lainnya sudah hancur dikerus oleh waktu.
0

KISAH BENTENG KUTA RUNTOH


Pada masa kerajaan Aceh, warga asing masuk ke Aceh melewati kuala (dalam bahasa Aceh Kuala artinya Dermaga). Mereka datang ke Aceh untuk membeli rempah-rempah untuk dijual ke negaranya. Tak heran jika pada wktu itu daerah pesisir lebih maju dan modern dalam bidang perdagangan dan pemerintahan. Salah satu daerah yang sangat maju adalah Kuala Gigieng, Alue Naga. Begitu juga dengan pelabuhan Ulee Lheu yang disinggahi ribuan kapal asing.
Didaerah Kuala Gigieng dan sekitarnya (sekarang daerh Alue Naga dan Deah Raya) berstatus kota dan banyak bangunan didalamnya. Salah satu bangunan yang terkenal adalah Benteng Kuta runtoh (dalam bahasa Aceh Benteng kuta runtoh artinya adalah Benteng Kota Runtuh). Saat ini benteng tersebut hanya tinggal dua bangunan saja diantara dua anak sungai, yang lainnya sudah hancur dikerus oleh waktu.
0

HUBUNGAN DENGAN MASYARAKAT PESISIR ACEH LAINNYA


Penduduk Alue Naga masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan penduduk pesisir di wilayah Aceh lainnya. Hubungan secara historis ini meliputi penduduk pesisir di Lamno, Ulee Lheu, pasi Tibang, Krueng Raya, pasi Lhok Sigli sampai ke peureulak (Kuala Beukah). Kebiasaaan masyarakat pesisir pada waktu itu mencari ikan di seputaran lautan yang masih berdekatan dengan darat. Bila ikan habis diperaian tersebut maka masyarakat akan mencari ke peraian lainnya. Jika tidak memungkinkan untuk pulang maka mereka akan tinggal di daerah tersebut. Sehingga lama kelamaan akan memboyong keluarhanya didaerah baru tersebut.

Watak masyarakat pesisir di Alue Naga sama dengan orang pesisir di daerah lainnya. Pada umumnya masyarakatnya setia, memiliki kecerdasan yang tinggi tetpi kurang mendapatkan pendidikan formal sehingga kecerdasannya kurang berkembang dengan baik. Mereka juga memiliki karakter yang keras, suka berpindah-pindah tempat untuk mencari tempat yang cocok untuk mencari nafkah (yaitu melaut). Mereka bisa menikah dengan orang sesame dari pesisir, kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan dari laut. Logika berpikir mereka adalah hidupbutuh uang dan jika dari laut bisa mendapatkan uang jadi buat apa melakuka pekerjaan lain. Sehingga tak heran jika banyak dari maeraka yang sedikit sukses dibidang pendidikan, pemerintahan dan bidang lainnya yang cocok untuk kehidupan di wilayah perkotaan.